Semester ini hampir selesai. Banyak hal dan ndak nyangka bakal se-hecticini. Mulai dari berburu manuskrip, berburu acara malam 1 Sura, sampai terburu membuat soal-soal untuk uji soal, dan semester depan praktek mengajar..ah, sudah sejauh ini rupanya. Hal yang belum lama kusadari, Im on my way to be a good teacher, and it come closer and closer. Ya mau tidak mau harus dijalani, karena memang sudah separo jalan. Masalah nanti mau jadi guru beneran atau memilih jalan lain itu belakangan.
Di umurku yang sekarang ini, orang bilang sudah umur dewasa, dewasa awal. Kata orang juga, dewasa itu pilihan, dan bisa dikatakan aku tidak memilih menjadi dewasa. Aku belum siap untuk menjadi dewasa. Aku belum melakukan langkah apapun sementara yang lain jauh berlarian menuju masa depan mereka. Seperti yang kukatakan dulu, cita-citaku masih buyar, buruk. Akan enak ketika aku adalah orang yang santai dan tak ambil pusing soal itu. Sayangnya aku orang yang banyak berpikir di tambah bukan tipe orang yang sudah tau mau melakukan apa dan bagaimana. Nah lo..
Rasanya mas-mas petugas SPBU itu benar, “Mulai dari nol, ya Mbak?”. Daripada bingung mau bagaimana, aku ingin memulai dari nol semuanya. Ingin fokus pada sesuatu dan merencanakan dengan baik plus dijalani dengan santai. Ah, kau ini, menulis ini saja kau tidak fokus. Lihat, kamu separo-separo karena kamu tidak fokus. Tengok kanan-kiri depan belakang. Bingung melakukan apa setelah itu menyesal tidak jadi melakukan apa-apa. Kebiasaan buruk..saaangat buruk.
Mungkin angan-angan melanjutkan S2 ke Belanda, pulang kembali ke Jogja dan menanam banyak-banyak pohon plumeria bali palace di rumah akan jadi cita-cita yang indah dan membuatku fokus mencapainya. Sekian.
Akhir-akhir ini saya berpikir tentang public speaking. Buat saya yang ndak begitu suka ngomong dan tampil di hadapan orang banyak, ini cukup sulit. Belum lagi, profesi yang (mungkin) akan saya geluti nanti adalah guru, jelas harus bisa ngomong di depan murid-muridnya. Saya mengambil total 6 sks untuk mata kuliah Ekspresi Lisan di mana mata kuliah ini mewajibkan mahasiswa praktek pidato, MC acara kecil sampai MC manten. Tapi, 4 sks yang sudah terlaksana, hasilnya minimalis. Memang saya tidak berharap banyak dengan mata kuliah ini, yang penting dapat nilai dan ilmunya, masalah diterapkan atau tidak itu belakangan :p
Pengalaman public speaking saya pas-pasan bahkan bisa dibilang payah. Maju latian MC mantenaja grogi sampe anyep, ngomong di hadapan lima anak SMA di depan kelas aja ndhredheg, memperkenalkan diri di hadapan 30 anak SMA aja nrothoki. O My Lord... aku kudu piye?
gambar ilustrasi saya dengan 'cangkem' yang lebar :D
Beberapa waktu lalu, saya ikut rombongan SM*X, Pak Bos, dan Amel safari jurnalistik ke Purworejo. Sudah pasti kegiatannya adalah nyangkem. Kalau Pak Bos sih ndak usah ditanya, beliau sudah andalan ngomong di hadapan orang banyak. Nah, kemudian saya mengamati, ada Amel. Dia juga andalan banget nge-MC nya :O. Amel juga udah lumayan banyak pengalaman tampil di depan publik, dan dasarnya juga seneng ngomong. Kemudian, Mas Ghora, kalau ini sih saya juga ndak heran, sesuai dengan jurusannya, komunikasi, dia sangat pandai berkomunikasi, segala macam komunikasi :p. Ada juga Panggah, nek iki aku ra nggumun, dia memang banyak mulut, jadi sudah pasti andalan ngomong di depan banyak orang. Yudho dan Mas Praend juga lumayan lah, dibandingkan saya. Intinya mereka semua oke public speaking nya. Bisa dibilang, di acara itu, saya yang ndak ngapa-ngapain, alias cuma diem aja, ndak ikut ngomyang.
Terus, kemarin, nonton Asia Tri, ada Pak Jo, dia juga nge-MC. Bagus juga nge-MC nya. Teman-teman saya yang lain yang jago ngomong ada Mbak Linda, Mbak Sarah, Mbak Shinta, Mbak Anis, Ririn, Diza :’). Dari pengamatan random itu, saya jadi menyimpulkan sendiri, public speaking itu perlu banget. Mau jadi apapun nanti, pasti ada saat ketika kita harus ngomong di hadapan banyak orang. Mau jadi penulis atau pelukis sekalipun, kalau karyanya meledak pasti banyak meet and greet dan mau ndak mau harus ngomong. Pelukis yang mau pameran tunggal pasti juga pidato dulu di opening ceremonynya.
Belum tuntas, beberapa waktu lalu saya dan Mbak Dhita mengikuti sebuah ajang di mana kami dituntut untuk ‘bisa ngomong’. Oke awalnya sih pede-pede aja ya, tapi begitu di dalam ruangan, berhadapan dengan juri dan harus menjawab pertanyaan dewan juri, modyar aja deh saya. Patner saya waktu itu tepu maksimal, luarnya sok-sok-an ndak bisa apa-apa, cupu, tapi begitu di dalam ruangan..jddeerr! Dia udah kayak radio jebol yang ndak bisa direm omongannya. Wow banget.
Ternyata ndak cuma saya aja yang merasa demikian, Mbak Dhita juga. Patnernya Mbak Dhita lebih joss public speaking nya. Semua jawaban pertanyaan dari juri seolah udah dia hafal sebelumnya, begitu kata Mbak Dhita. Bahasa Inggrisnya bagus pula. Minder deh kami..
Lalu, tadi sore sebelum saya posting tulisan ini, saya dan Mbak Dhita sempat ngobrol soal public speaking gitu. Selain ngrasani patner kami yang tadi, Mbak Dhita juga bilang pengen ikut kursus public speaking. Ya, hal itu akan sangat penting nantinya. Bagaimana dengan kamu? Sudahkah kamu pandai dalam public speaking?
Well, karena cangkeman tidak hanya sebatas cangkem saja. We need techniques.
Ini ada sedikit oleh-oleh dari Bali (lagi). Setelah kemarin terkesan oleh seorang LTG, sekarang terkesan oleh... Simak cerita berikut..
Jadi, ketika di Bali, saya dan rombongan bertandang ke Institut Hindhu Dharma Negeri (IHDN) di Denpasar. Kampusnya bagus...tapi saya ndak akan bercerita soal kampusnya. Begini, ketika sedang mengikuti acara penyambutan dan semacam diskusi ringan di aula kampus IHDN, teman saya, sebut saja Simbah, ingin menunaikan panggilan alam. Berhubung saya dan Simbah pisah dari teman-teman sekelas, jadilah saya korbannya. Menjadi pengiring Simbah mencari 'tempat semedi' untuk 'menyatu dengan alam'.
Akhirnya Simbah pun menunaikan 'tapa' nya dengan segera. Tempat 'tapa' nya berada di pojok komplek kampus. Sambil nunggu Simbah 'tapa', saya kebetulan bawa kamera saku, jadilah saya potret-potret kanan-kiri. Nah, ada yang sedikit menarik perhatian saya, di balik tembok tinggi, menyembul penjor-penjor khas Bali yang unik itu. Lebih menarik lagi sebelah penjor itu ada pohon..pohon bunga kamboja. Awalnya sih tertarik motret karena bagus aja enggelnya. Udah potret aja.
Itu, bunga kamboja warna kuning itu sepertinya membawa kesan bagi saya. Tak perhatikan lagi kok cantik gitu bunganya. Warna kuning ceria. Mungkin kalau di lingkungan tempat tinggal saya, mengagumi bunga kamboja itu aneh, karena kamboja masih identik dengan bunga kuburan, kecuali kamboja jepang lho ya. Sudah begitu, foto saya simpan di berkas dalam komputer. Selesai awalnya, tapi ternyata saya ketemu lagi sama bunga kuning ceria itu.
Ini pohon PBP yang di dekat IHDN Denpasar
Tempo hari saya dan beberapa teman ke Perpustakaan Jarahnitra untuk keperluan mencari naskah. Nah, di sana saya melihat pohon bunga kuning itu lagi! Wow..di Jogja ada ya yang tanam pohon itu :D
Uniknya lagi, pohon itu letaknya di balik tembok tinggi juga sama persis seperti ketika di IHDN. Bedanya tidak ada penjor-penjor di sampingnya. Saya masih menyebut bunga itu bunga kamboja kuning ndak tahu bener apa salah. Pikir saya, besok-besok kalau kangen sama suasana Bali bisa ke perpus Jarahnitra, langsung ada obatnya :)). Sayangnya ndak sempat ambil gambarnya, lain kali deh ya kalau kesana lagi.
Karena penasaran, saya googling bunga kuning itu. Tadaaa~ nama latinnya plumeria bali palace, bunga kamboja warna kuning. Saya jadi pengen tanam bunga itu..beneran deh. Baru kali ini terkesan sama bunga. Mungkin karena faktor feel sama suasana aja kali ya, tapi tetep berkesan :')
Jadilah saya ngetweet, "oke, fix, kalo wisuda mau dikasih buketan kembang plumeria bali palace. catat ya kawan-kawan :)))" Sukur-sukur sebelum wisuda udah bisa tanam pohon itu di halaman rumah :'D. Sukur-sukur lagi, yang ngasih besok si pemilik senyum-plumeria bali palace. Guess who?? Hanya Ameng, Tuhan, dan malaikat yang tahu :p #tssaaahh
Jadi kesimpulannya, saya mengagumi plumeria bali palace sekaligus berusaha mencari pohonnya untuk bisa ditanam di halaman rumah..sekaligus pemilik senyum-plumeria bali palace-nya supaya bisa 'ditanam' di hati sayaaah~ dudududu~
Perjalanan panjang yang begitu singkat. Bahwasannya saya terlalu sinis dengan semua hal tentang perjalanan itu sebelumnya.Ngomong apa sih saya? Oke, saya baru kembali dari trip Bali-Lombok. Awalnya saya ndak eksaited sama apapun tentang trip ini. Sampai akhirnya dijalani dan menemukan hal-hal kecil yang membuat saya berpikir dan terkesan.
Jadwal trip bisa dibilang berantakan. Touch down di Bali rencana bisa mandi dan makan pagi, mandi pagi berubah jadi mandi siang. Hanya sempat makan pagi dan pergi lihat Tari Barong. Jadwal terus saja amburadul setelah itu. Anehnya saya menikmati saja ke-amburadul-an itu tanpa protes apapun.
Tujuan utama ke pulau sebelah, Lombok. Terombang ambing di kapal 4 jam. Sampai saya menulis tulisan ini sensasinya masih ada. Di Lombok, masih aja ada yang amburadul. Beberapa teman tidak dapat kamar di hotel dan bla bla bla. Menuju ke tempat wisata pertama, Gili Trawangan. Untuk ke Gili, harus naik boat yang kapasitasnya 30 orang selama kurang lebih 1 jam. Karena siang hari, ombaknya besar sekaleee..apalagi sehabis dari Gili mau balik ke penyeberangan di Lombok. Tempat itu, yang sering ada di tipi, ternyata ya begitu. Buat saya yang ndak bisa berenang dan ndak suka basah-basah, agaknya biasa aja tempatnya. Tapi asik buat sepedaan, walaupun saya ndak coba sepedaan juga karena panas banget. Akhirnya puas-puasin foto-foto view di sana aja, because someday I'm sure that I'll be back to see that place again..soon.
Inti dari postingan ini sebenarnya bukan cerita view atau gimana asiknya menjelajah Lombok. Oke, jadi dari Bali, kami bawa LTG (local tour guide) meskipun di Lombok nantinya juga akan ada LTG lagi. Ini tentang LTG yang kami bawa dari Bali. Kami panggil beliau Bli Taro. Awalnya saya ndak pay attention sama beliau, ndak ganteng sih :P. But suddenly, I just feel like I've known him before, somewhere. Feels like he's my father or my uncle or something family-related. Padahal kami ngobrol aja cuma dikit-dikit, basa-basi.
I like his outfit and his gesture. Espesiali when he wore round hat, red shirt, semi-casual short, and cappucinno-sneakers. I love that outfit, even let's say he's no more young.. Then, he makes me think...very deep in thought. Does he love his job? Does he want his job? How's his life? Many questions about him still spin-arround my head.
Sudah seperti wartawan, pertanyaan banyak banget nongol di kepala. Kayak mau bikin TOR wawancara gitu guweh. Tapi akhirnya saya hanya mengamati saja, mengamati bagaimana beliau bekerja. Mengikuti kami, berbicara banyak hal, dan tak jarang melantur kesana kemari bercandanya. Beberapa teman mengobrol dengan beliau panjang lebar. Saya tidak, saya bukan orang yang suka memulai pembicaraan..apalagi dengan orang yang baru dikenal.
Sejauh saya mengamati beliau, he's awesome. Sempat saya rasan-rasan sama Ema, bahwa Bli Taro cocok jadi dosen. Beliau punya center-of-interest. Semua peserta tur bisa pay attention ke beliau tanpa di suruh memperhatikan. Beda sama Pak Jul, LTG kami di Lombok, kami ndak begitu memperhatikan Pak Jul. Jujur saya pribadi lebih suka Bli Taro yang berbicara di depan.
Kemudian, kudengar cerita dari Apri, meskipun dia tidak membagi secara utuh padaku ceritanya. Apri sempat mengobrol banyak hal dan saling lempar pertanyaan dengan Bli Taro. Dari apa yang diceritakan Apri, aku bisa menangkap bahwa Apri pun terkesan dengan Bli Taro. Aku dan Apri mengobrol di dalam angkot yang membawa kami ke Joger. Perasaan yang kami rasakan kurang lebih sama. Kami sama-sama tidak ingin secepat itu meninggalkan Bali..meninggalkan sosok bernama Bli Taro.
Aku tidak sepenuhnya menyesal untuk tidak mengobrol dengan beliau. Karena pertanyaan-pertanyaan itu mungkin sudah bisa kujawab sendiri. Malam itu, perjalanan dari Padang Bai menuju hotel kami di Sanur, beliau duduk di samping saya, di lantai bus. Terjaga, sesekali terkantuk sampai topi bundarnya jatuh. Tuhan, sungguh rejeki-Mu berasal dari manapun, langit, bumi, tanah, hujan, bahkan di lantai bus pariwisata. Beliau kemudian bangkit menuju muka bus, membangunkan kami karena sudah sampai di hotel kami di Sanur.
Aku jadi merenung dalam tentang profesi seorang TG. Betapa hidup mereka tergantung oleh wisatawan. Betapa kerasnya mereka belajar, memperkaya pengetahuan tentang daerah mereka meski usia sudah tak remaja lagi. Bagaimana mereka bisa diterima oleh tamu-tamu, bagaimana mereka harus bersikap dan berkomunikasi. Mereka berjuang untuk tetap kaya, orang Bali kalau tidak kaya tidak bisa sembahyang, tidak bisa hidup. Meskipun secara kasar uang mereka habis untuk dibakar di pura. Tapi itulah yang diutarakan Bli Taro pada kami.
Kamu tidak akan paham mengapa saya bisa berbicara seperti ini. Tentang seorang TG. Bukan hal yang menarik dan luar biasa. Tapi kutemukan ke-luarbiasa-an dari profesi bernama tour guide. Semua profesi itu luar biasa sesuai dengan fungsinya. Dan kali ini aku melihat dan mengamati satu profesi yang mengesankan. Aku menuliskannya di sini, supaya aku tidak lupa pernah betemu orang luar biasa dengan profesinya yang luar biasa.Dan entah mengapa, aku yakin aku akan bertemu beliau lagi suatu hari nanti. I just found another memorable man from Bali...
Husni, Asma, and Bli Taro with his bright smile
Picture taken (candid) by me w/ Pocket DC Canon Power Shot A3400 IS in toy cam effect.