Aku, Bunda, dan Kasur Busa

September 29, 2013



Malam telah menua, tapi pagi masih belia. Alas tipis berbahan kayu serut, belasan kertas sketsa, dan spidol warna-warni. Semua dengan sembunyi-sembunyi.


Seperti mengulang kembali masa kanak-kanakku. Bermain dengan warna-warni pastel, spidol, juga cat air. Benda-benda itu alasan Ayah membanggakanku, anak perempuan satu-satunya.


Kunyalakan komputer, kuambil secarik kertas sketsa dan kujepit di atas alas tipis kayu serut.


-Help please-
-klik-


Belasan foto di dalam folder itu. Ah, entah mengapa aku menerima tawaran ini. Kupilih wajah yang paling lucu.


Garis-garis acak saling sambung jadi satu tanpa ragu. Hei, lucunya wajahmu. Ceria sekali senyummu. Boleh kita bertemu? Aku ingin mencubit pipimu. Ah, aku tetap harus sembunyi.

Ini sangat menyenangkan. Aku kembali kanak-kanak dalam wujud belasan wajah itu. Ayah, masihkah kau bangga padaku yang kekanakan ini?


-Setoran siap. Kapan kita bisa jumpa?-
-send-

-reply-
-Senin?-

-Boleh boleh-
-send-

-reply-
-Tentukan waktu dan  tentukan tempat-

-West Café, jam 16.30-
-send-

-reply-
-West ramai, Lir Café jam 17.00-

-Nah, percuma aku usul. Sampai jumpa hari Senin-
-send-



Ayah, belasan wajah ini membuatku senang. Ayah, semoga kau pun senang. Tapi aku tetap sembunyi, ada mata mengawasi.


-------

Lusa ulang tahunmu. Kemarin kau menyebutkan hadiah apa yang kau inginkan. Kau suka sekali Le Petit Prince. Kau paling suka dengan Si Rubah. Entah seperti apa Si Pangeran dan Si Rubah, aku bahkan belum pernah membacanya.



Mentari tanggal 22. Hari ini usiamu bertambah. Kulaju skuter matikku. Dalam 30 menit, Si Pangeran dan Si Rubah berada di tanganku. Masih dengan sembunyi-sembunyi.


Sebuah kantung koin berwarna coklat, hadiah yang lain untuk esok hari. 23. Tapi tak kuindahkan menukar koinku untuk kantung koin itu. Mungkin ia tak butuh kantung koin, pundi-pundi doa akan lebih berarti baginya.


-------
Ayah, belasan wajah itu, lihatlah, semuanya tersenyum.


Pagi udara 23. Kukecup pipi kanan dan kirimu, teriring doa sayang untukmu, semoga Tuhan berkahi usiamu.


Mentari 23 hampir tenggelam. Aku masuk ke dalam kamar. Kasur busa warna hijau bermotif bunga.


“Bunda yang belikan itu. Kasur lamamu bolong-bolong begitu.”
“Bund…”


Habis kata-kataku. Kasur busa membungkamku.


Bahkan untuk tanggal 22 aku memberinya Pangeran Kecil dan Si Rubah juga belasan wajah lucu goresan tanganku. Bayangan Ayah hinggap di kepala, mengatakan, “Itu mimpimu, Nak!”

Dari tanggal 23 lah aku sembunyi, tak ingin ia kecewa dan membenciku. Mengubur warna-warni pastel, pensil warna, apapun itu. Kini ia bungkam aku dengan wujud satu warna pada satu benda: kasur busa.

Bunda, yang pada hari jatah usianya berkurang, hanya doa sayang dan kecupan di pipi. Sedangkan untuk tanggal 22 kuberi mimpiku, kesenanganku, kenanganku dengan Ayah, dan rasa yang mungkin menyamai rasa kecupan di pipi Bunda.

Kepada Ayah, terima kasih kau kembali barang sejenak. Aku cukup senang, Ayah. Kau hadir lewat tanggal 22 dan belasan wajah yang tersenyum lucu.

Kepada tanggal 22, terima kasih, kau bawa aku pada kenangan bersama Ayah, bersama mimpiku lewat belasan wajah yang tersenyum lucu.




Tapi kini aku mati kata karena kasur busa. Aku menyayangi Bunda, tanggal 23, karena ia tak akan pernah pergi seperti kenangan bersama Ayah, mimpiku, warna-warni belasan wajah lucu itu.


Tanggal 22, aku menyayangimu seperti aku menyayangi mimpi dan kenangan bersama Ayah.
Tapi di tanggal 23, sepenuhnya sayangku, doa cintaku, semuanya kembali pada Bunda karena kasur  busa.



Malam ini, kasur busa membungkamku.

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe