Bahagia Itu Plesir

September 09, 2013



Halo, baru posting lagi karena sibuk KKN-PPL. Di posting sebelumnya saya pernah menyinggung tentang plesir kan ya? Nah, sekarang saya mau cerita tentang itu. Tapi maaf kalau agak ndak runtut, masalahnya saya sudah lupa-lupa ingat kronologi kegiatannya. So this is it..

Hari itu hari *buka kalender karena lupa* Senin 17 Juni 2013. Saya dan teman-teman satu angkatan pergi berwisata menelusuri pantai selatan Kabupaten Bantul. Kelihatan ramai ya? Satu angkatan. Ketahuilah satu angkatan itu yang berangkat hanya yaa kurang lebih 24 orang dari total 160 kepala. Dari kelas A, kelas saya, ada Heny, Ratna, Kinanti, Husni, Nugrah, dan tentunya saya. Paling banyak ikut kelas G ada Dona c.s.

Hari Senin yang cerah


Kami kumpul di kampus jam 9, setelah itu kami menuju rumah Nugrah sebagai titik awal keberangkatan telusur pantai. Rumah Nugrah di Bantul sebelah timur, daerah Banguntapan. Sudah sampai di rumah Nugrah, daaan..benda apa yang pertama kali menarik perhatian saya? KERETA MINI warna PINK. Ya, kami telusur pantai naik kereta mini atau kereta kelinci yang biasa dipakai keliling kampung anak-anak kecil.

Kereta mini warna PINK


Ide naik kereta mini itu asalnya dari Nugrah dengan sedikit provokasi saya dan teman-teman. Si Nugrah pernah cerita kalau lebaran dia dan keluarga besarnya suka naik kereta mini menelusuri tepi pantai selatan Bantul. Dari situlah, ndak ada salahnya dipraktikkan di acara ini..hehe.

Sekitar jam 11 kami berangkat. Yeay! Naik kereta mini! Barang bawaan sudah macam-macam. Ada gitar, kamera, sekantung besar kerupuk, tali rafia, bola-bola plastik, toples-toples camilan, sampai kembang api juga bawa. Kenapa ada krupuk dan bola plastik? Karena kami akan adakan lomba di pantai. Hahaha.

Di jalan, kami jadi pusat perhatian. Itu bocah kawak-kawak pada naik kereta mini ngapain? Hahaha. Biarlah, asal kami senang dan tidak mengganggu lalulintas. Sepanjang jalan kami foto-foto, bernyanyi, mengobrol apa saja, intinya senang-senang. Saya sendiri sangat menikmati perjalanan ini. Teman yang lain pun tampaknya demikian.

Perjalanan kurang lebih satu jam. Kami mulai memasuki pesisir pantai Parangkusumo. Di pantai ini ada satu keunikan, ada tempat ziarah rohani ada pula tempat ‘ziarah’ nafsu. Errrr..tahu lah maksudnya. Gubug-gubug kecil siap menerima kalian yang mau ‘ziarah’. Tapi kami ndak ‘ziarah’ kok, secara masih siang, kalau malam..emm..BISA JADI! BISA JADI! Oke, kembali lagi, kereta mini membawa kami ke pesisir Parangkusumo yang berbatasan dengan Parangtritis. Ya, kalau Parangtritis sudah tau lah ya. Yang pada suka sandboarding, Parangtritis dan Parangkusumo sudah jadi primadona.

Kolam renang dadakan di tepi pantai


Di perbatasan kedua pantai itu, kami berhenti. Saatnya menikmati deburan ombak nan syahdu. Siang-siang jam 12. Panas sudah pasti, tapi di tepi pantai banyak payung-payung cinta untuk berteduh. Payung cinta pale lu! Itu paying disewakan buat berteduh bagi yang kepanasan. Payung sekaligus tikar harga sewanya mulai dari 10 ribu rupiah.

Payung cinta 10 ribuan



Ini payung cintaku, mana payung cintamu?
Di sini kami cuma neduh doang. Eh ndak nding, saya sempet jalan-jalan motretin payung cinta dan bendi-bendi cinta yang banyak di sana. Sebenernya ada sewa ATV buat yang mau gaya-gayaan. Tapi aku sudah pernah naik ATV di pantai yang lain..dan sewa ATV itu mahal..hehe. Sempat gerimis sebentar tapi langsung reda. Kami cukup lama di situ, ndak tahu deh pada ngapain, tapi lama-lama saya bosen juga. Berhubung sudah mau sore, sudah semakin ramai juga, kami beralih ke tempat berikutnya: Pantai Depok. Buat yang suka kuliner laut, di pantai ini banyak sekali warung makan ikan syegar.

Bendi cinta



Sewa ATV
Taken by Gigamenk

Si Nugrah

Dari Parangkusumo ke Depok cuma butuh 15 menit via kereta mini. Sampai di Depok, kami kembali jadi pusat perhatian. Di sana banyak anak TK yang sedang liburan. Mereka naik bus pariwisata. Begitu mereka lihat kereta mini pink punya kami, mereka langsung mupeng dan tunjuk-tunjuk pengen naik. Haha.

Tujuan utama kami ke Depok adalah makan. Tapi sebelum makan, kami main-main dulu dong. Sudah bawa bola plastik, kerupuk, dan tali rafia ini. Lomba diikuti perwakilan masing-masing kelas. Nah di sini lah, saya diuji. Kelas saya, kelas A adalah kaum minoritas. Kami hanya ber-enam. Padahal rencana awal banyak sekali yang ngakunya mau ikut, nyatanya yaa..cuma sebegini. Saya dipaksa ikut lomba. Lomba apa? Lomba makan kerupuk. Ketahuilah bahwa seumur hidup saya baru kali ini ikut lomba makan kerupuk. Keren kan?

Taken by Ratna

Taken by Ratna

Lomba kerupuk ini ndak main-main. Kerupuknya ada empat biji dan besar-besar. Untung saya duet sama Kinanti. Daaan kami juaranya! Yeay! Bangga gitu rasanya baru pertama kali ikut lomba makan kerupuk dan menang. Hahaha. Lalu ada lomba giring bola estafet. Dari kelas A ada Nugrah, Husni, Ratna dan Kinanti. Wujudnya para bocah ini lucu banget pas lomba. Pada main curang, tapi ndak apalah, ndak ada hadiah ini juga. Hehe.

Taken by Ratna

Nugrah sama Ratna mau main giring bola :)
Sudah capek main, sudah capek foto, tiba saatnya kami makaaan. Makan ikan laut, udang, pakai nasi hangat, sambal, dan minum es jeruk. Nikmatnyaa.

Di acara ini sebenernya saya ndak begitu kenal dengan beberapa teman kelas lain. Ada yang aku baru tahu malah kalau dia satu prodi sama saya. Haha. Maklumlah saya bukan sosialita kampus. Hidupku lurus-lurus aja, kuliah-pulang kuliah-pulang. Hehe. Tapi dari acara ini juga saya jadi tahu, jadi kenal teman-teman yang aku ndak akrab jadi akrab, yang aku ndak tahu jadi tahu.

Ratna mulai menggiring bola >.<

Nugrah menggiring bolaah~


Selesai makan, kami bersiap pulang. Hari sudah gelap. Sebelum pulang, kami foto bersama dulu. Setelah foto bersama, kami menyalakan kembang api yang bisa meluncur ke atas itu..apa namanya ndak tahu. Hehe. Habis kembang api, kami nyanyi bersama. Lagu wajib di saat seperti itu adalah lagu ‘Kemesraan Ini’. Memang mesra sekali sodara-sodara :’)

Akhirnya kami pulang. Di kereta mini, teman-teman tidak berhenti bermain gitar dan bernyanyi. Lagu apa saja mereka nyanyikan. Campursari, dangdut pantura, lagu-lagu lawas, apa saja pokoknya. Di perjalanan pulang ini saya benar-benar menikmatinya. Angin malam, jalanan sunyi, petikan gitar dan suara teman-teman bernyanyi. Ah, mungkin ini namanya bahagia itu sederhana. Rasanya bersyukur sekali bisa menikmati hari seperti ini. Akan jadi cerita di kemudian hari. Bukan cerita yang hebat, hanya cerita yang sederhana saja.

Taken by Gigamenk


Dalam perjalanan pulang kerumah Nugrah, saya mendapat pesan singkat dari Mbak Dhita. Pesan yang membawa saya pada pengalaman menarik berikutnya. Pengalaman yang juga tidak hebat tapi membawa banyak kesan. Pengalaman itu sudah saya ceritakan kok di post sebelumnya. Hehe.

Taken by Gigamenk


Taken by Gigamenk


Taken by Gigamenk
So, that’s all. Terlalu banyak yang ingin saya tuliskan tapi belum sempat saya tulis. Saya tidak ingin lupa dan melupa. Ini saya tulis di waktu yang harusnya untuk menulis laporan KKN-PPL. Karena buat saya, hal yang tidak penting dari segi prioritas itu jauh lebih menarik daripada hal yang penting. Hahaha.
Salam~



Taken by Gigamenk

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe