'Empon-empon' Idola Indonesia



 “Empon-empon, siapa yang tahu apa artinya?”


Pertanyaan ibu guru kepada saya dan teman-teman waktu kecil dulu. Waktu itu sedang berlangsung pelajaran muatan lokal bahasa Jawa. Saya geleng-geleng kepala, begitu juga teman-teman yang lain. Bu guru pun memberi kami tugas untuk membaca bacaan pendek di buku materi berjudul ‘Empon-empon’. Dari situlah saya tahu istilah empon-empon yang berarti
tanaman obat dalam bahasa Jawa.

Ternyata, hidup saya tidak jauh dari Si empon-empon itu.

Pada suatu ketika, ayah dan ibu saya membawa bibit pohon di beberapa pot kecil. Saya tidak tahu pohon apa itu. Saya juga tidak repot-repot tanya. Hingga suatu ketika saya tahu bahwa itu pohon Mahkota Dewa.

Banyaak sekali pohon Mahkota Dewa di halaman rumah. Beberapa tumbuh dengan sangat baik. Tanpa disiram, tanpa dipupuk, pohon-pohon itu berbuah dengan semena-mena. Bahkan ketika berbunga..astagaa..bunganya kecil-kecil dan banyak. Repotnya kalau sudah tiba bunga itu rontok berserakan di halaman, jadi butuh tenaga ekstra untuk menyapu halaman. Kalau sudah berbuah, beberapa yang merah juga akan rontok bertebaran kemana-mana. Tanaman macam apa ini?

Suatu ketika saya protes ke bapak saya. Buat apa tanam pohon yang buahnya bahkan tidak bisa dimakan? Buat apa tanam sebanyak itu? Bapak saya bilang itu empon-empon, tanaman obat. Lah, buat obat apa, Pak? Jamu? Ndeso! Pikir saya.



Bapak saya bilang, itu bisa untuk obat macam-macam penyakit. Apanya? Bunganya? Daunnya? Buahnya? Ah, yang benar? Saya masih enggak percaya saking sebalnya dengan pertumbuhannya yang semena-mena itu tadi.

Kata bapak, mulai dari buah sampai batangnya bisa dijadikan obat. Ketika pohon berbuah lebat, bapak biasanya mengambil buah yang sudah berwarna merah. Buah-buah itu kemudian diiris daging buahnya. Bijinya tidak diikutkan karena mengandung racun. Bapak biasanya mengiris 5-6 buah Mahkota Dewa. Untuk apa?

Bapak punya penyakit hipertensi, jadi beliau meramu sendiri obat dari daging buah Mahkota Dewa tadi. 5-6 buah tadi diiris daging buahnya, dipisahkan dari bijinya, kemudian dicuci. Bapak kadang (kalau punya) menambahkan sambiloto kering dan pegagan kering. Semua bahan itu direbus dengan kurang lebih 3 gelas air. Rebusan air disaring, kemudian bisa diminum.

Ketika meramu Mahkota Dewa itu, saya paling suka ketika membantu bapak memasukkan bahan ke kuali kecil berisi air. Serasa jadi penyihir, apalagi kalau sudah mendidih, aromanya memang aroma ramuan. Saya jadi serasa murid kelas ramuan di Hogwarts.

Saya sendiri pernah mencoba minum sedikit ramuan itu. Rasanya? Segar, sedikit pahit dan asam. Berpahit-pahit dahulu, sehat dan bugarlah kemudian.

Pernah juga suatu ketika ada serombongan anak kecil datang ramai-ramai ke rumah saya. Bingunglah saya, ada apa ini? Ternyata mereka minta izin untuk memungut buah Mahkota Dewa yang berserakan di halaman. Loh, buat apa? Mereka bilang buahnya laku dijual di pasar. Buat obat katanya. Wah, pintar juga anak-anak ini, cari uang jajan sendiri. Mereka pun diperbolehkan oleh bapak saya memungut buah-buah yang sudah jatuh di tanah.

Bapak saya jadi jarang pusing-pusing akibat hipertensi karena minum ramuan Mahkota Dewa. Lebih manjur daripada harus pergi berobat ke klinik-klinik yang pasang iklan di televisi itu. Pandangan saya ke pohon Mahkota Dewa pun juga berubah. Saya tidak lagi uring-uringan kalau bunganya rontok tersebar ke seluruh halaman. Tidak marah kalau buahnya menggelinding kesana-kemari di halaman, sudah dibantu memungut oleh adik-adik kecil tadi.

Saking sayangnya bapak saya sama Mahkota Dewa, halaman rumah pun ditumbuhi pohon mengkudu dan pohon sirih sebagai teman si Mahkota Dewa. Supaya ramai katanya. Supaya melestarikan jamu Indonesia juga seperti yang telah dilakukan BRC IPB. Bapak saya dan Mahkota Dewa sama kerennya dengan BRC nih.

Mahkota Dewa memang empon-empon idola bapak saya dan pasti juga idola Indonesia!

Share:

5 komentar

  1. Idola Indonesia~ *nyanyi ala-ala Indonesian Idol* hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi dibikin kontes jamu idola gitu ya Mbak :D

      Hapus
  2. wah bisa buat resep utk ibuku...
    malah ibuku buat ramuan dari daun salam, dimskkn ke gelas trs dikasih air panas...
    jdlah kyk air salam itu, kemudian diminum
    ktnya buat burunin hipertensinya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh-boleh, nanti bapakku gantian coba resep ramuan daun salamnya :D

      Hapus